Di bawah ini, surat yang saya kirimkan ke mbah saya….
Assalamu`alaikum wr.wb
Met pagi menjelang siang eyang, di sini sekarang baru jam 9.23, jadi masi terlalu dini untuk mengucapkan met siang. Saya bisa dibilang sehat sekarang, dan alhamdulillah masi semangat untuk menjalani petualangan besar yang bernama hidup ini. Semoga disana eyang putra dan putri merasakan hal yang sama. Tadi pagi sehabis sahur saya malah sepedaan, beberapa kilo, awalnya mau liat anak-anak yang main basket di UMM situ, tapi gara-gara sepi, mungkin gara-gara udah masuk sekolah atau emang masi bo-bo semua, saya berfikir beberapa saat dan menetapkan tujuan baru ke teman saya. Jarak rumahnya sekitar 3 kilo dari UMM situ, pi perjalanan jadi menyenangkan karena dilalui dengan sepeda Polygon saya. Sepagi itu jalannya masi sepi dan sepeda saya bisa melaju kencang mengarungi jalan yang cukup menurun tadi, entah berapa kecepatan saya saat itu, gear sepeda saya naikkan satu tingkat untuk mengimbangi kecepatan, merasakan hembusan angin pagi tanpa polusi di jalan yang sepi dan rata benar-benar seru. Saya melewati Pasar Dinoyo dalam perjalanan tadi, sempat menyaksikan dua orang petugas parkir sepeda motor yang melihat perempuan berlalu dengan mata mereka yang ngiler. Saya cuma bisa tersenyum jika melihat dua orang tadi yang jika dilihat dari perawakannya, seperti perjaka tua. Tidak sampai sepuluh menit saya tiba di rumahnya. Namanya Dewonggo, teman saya dari kelas satu MTs, senang rasanya bisa bicara sebentar ma dia. Topik-topik seperti selalu ada mengingat lamanya kita berteman, dan yang paling menarik adalah topik apapun bisa dibuat seru jika bicara dengan teman seperti itu.
Seperti yang eyang tau, di sini saya mau membalas surat yang diberikan eyang kepada saya, surat yang berupa khotbah itu. Penting bagi saya untuk mengatakan bahwa, seperti yang kita tau, secara usia saya bisa digolongkan muda, dan tentunya Insyaallah juga berjiwa muda. Mengingat hal itu, maka apa yang saya katakan, diksi yang saya gunakan mungkin bisa terlihat kasar atau aneh bagi eyang, tapi saya melakukan semua itu sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung atau membuat risih eyang. Saya hanya mengatakan apa adanya, dan jika apa adanya itu terlihat dilebih-lebihkan menurut eyang, mungkin hal itu hanya faktor muda saya yang ikut berperan.
Di dua khotbah ini eyang membahas tentang Isra` Mi`raj dan Ketentraman Batin. Isi dari khotbah yang eyang sampaikan benar dan solid menurut saya, disertai beberapa dalil, dan contoh-contoh di sana sini, tetapi saya tidak atau mungkin belum menemukan unsur menarik di situ. Kenapa ini bisa terjadi? Penjelasan versi pendeknya karena saya bosan, versi panjangnya karena saya sudah mendengar topik itu mulai saya bisa ikut jumatan sampai segede ini disampaikan beberapa kali, di berbagai masjid, melalui orang-orang yang berbeda, tapi tetap dengan isi yang sama dengan perubahan yang bisa dikatakan tidak ada.
Saya yakin bukan hanya saya yang merasakan perasaan seperti ini, saya memang tidak punya data statistik atau semacam itu, tapi tanda-tandanya sudah bisa jelas dilihat. Fakta bahwa banyak orang yang datang Jumatan pada waktu menjelang khotbah kedua atau bahkan ada yang menunggu komat, kemudian banyak orang yang tidur saat dibacakan khotbah entah mereka benar-benar capek atau emang merasa bosan itu tadi dan tentunya tidak ada wanita di sini yang tertarik untuk ikut Jumatan, di sini karena di sana, di Amerika, setau saya malah ada perempuan yang menjadi Khotib malah.
Sesuatu yang diperintahkan dengan hukum wajib, menurut saya pasti akan ada masa di mana perintah itu kehilangan makna. Ya, menurut saya sebagian besar orang itu Jumatan hanya karena ada perintah di dalam Al-Quran atau sekedar tradisi saja, bukan karena dorongan di dalam dirinya untuk benar-benar mencari ilmu. Kalau pendapat saya jelas hal itu negatif. Orang-orang bertindak hanya karena dorongan pahala, sorga atau neraka saja, berfikir bahwa jika setiap hari membaca Al-Quran, sholat, puasa, Jumatan, atau mungkin telah haji mereka bisa begitu mudahnya masuk surga dan mengabaikan masalah-masalah “duniawi” karena merasa yakin udah punya kavling di surga yang jauh di sana. Sebenarnya selain Jumatan masi ada beberapa kegiatan yang bernada sama.
Saya ambil contoh pada Ramadhan ini, mengenai Tadarus. Di mana-mana orang-orang semangat sekali untuk membaca Al-Quran, kenapa bisa begitu? Karena diperintahkan membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya, karena ingin meramaikan bulan yang mulia ini, karena sudah tradisi dan karena pahalanya dilipat gandakan berkali-kali. Setahu saya perintah ini disampaikan oleh Muhammad dulu sekali, dengan konteks masyarakat Arab, apakah kita di sini yang tidak bisa memahami salah satu bahasa tersulit itu juga mendapat perintah yang tepat sama dengan mereka? Saya ragu, maksud saya teori tentang orang membaca suatu naskah tanpa mengerti sama sekali naskah itu, dan melakukannya hanya karena dorongan yang dangkal dan untuk dirinya sendiri itu masih tidak dapat saya mengerti. Bagaimana jika saya misalkan saya seorang guru, membuat buku, dengan bahasa yang murid saya tidak mengerti, buku itu dibaca semua murid saya setiap saat, tanpa mereka mengerti sedikitpun, dengan harapan rapornya saya kasi nilai bagus nanti, aneh kan teori ini, tujuan utama saya “menurunkan” buku yaitu untuk memberi manfaat setidaknya ke mereka dan seharusnya ke lingkungannya tidak digubris sama sekali. Mengenai shalat, khususnya Tarawih dan Subuh. Sudah biasa kita lihat betapa penuhnya masjid pada kedua shalat ini, terutama di Tarawih, dan menurut saya hanya pada Ramadhan bisa kita lihat rekor-rekor jamaah masjid terbanyak sepanjang masa yang dipegang tahun-tahun yang lalu bisa berguguran. Meskipun sebagian besar orang di situ shalatnya seperti shalat orang yang teler, meminjam istilahnya Yusman Roy. Kenapa orang-orang bisa giat sekali shalat pada bulan ini? Karena diperintahkan seperti itu, karena ingin ikut kegiatan yang “rame” ma orang banyak, karena dari dulu seperti itu dan karena pahalanya gede. Saya mungkin hanya menjadi sinis di sini, tapi menurut saya faktor perintah, tradisi, dan pahala(semacam kombinasi yang mematikan), benar-benar tidak bisa dilepaskan pada Tadarus, Tarawih, dan ya, Jumatan.
Suatu perintah, tradisi yang dibumbui dengan pahala akan berbahaya jika sudah kehilangan maknanya, kita tidak perlu sampai menghapus suatu tradisi itu, memberinya makna yang sesuai dengan kondisi sekarang, merupakan solusi yang tepat saya pikir.
Sekarang mungkin saya hanya bisa bermimpi bisa mendengarkan khotbah yang berjudul, Isra` Mi`raj dengan Wright Bersaudara, Kesabaran dengan Nelson Mandela, Menuntu Ilmu dengan Abdus Salam, Hijrah dengan Benjamin Franklin, atau Akhlak Mulia dengan Mahatma Gandhi. Sengaja saya pilih orang-orang yang non-muslim(dengan pengecualian mungkin pada Abdus Salam, satu-satunya muslim peraih Nobel Fisika, yang sayangnya “tidak sebegitu muslim” karena Ahmadiyah). Karena saya yakin banyak yang bisa diambil dari mereka dan tidak seharusnya agama memecah-mecah umat manusia.
Dengan segala hormat.
Cucu eyang yang cakep
Ahmad Rifqie Hasan
Wassalamualaikum wr.wb.
.