Aku mo nyeritain sedikit tentang pa yang pernah ku alamin dan ku dengar tentang membuat blog.
Suatu hari, hem gak usah pake kata suatu hari kayanya, seperti dongeng aja, pi sepertinya nyeritain tentang blog dengan teknik mendongeng cukup menantang. Hem…. gimana ya, versi alami aja, laen kali aja cari tantangannya.
Dulu (ya wz dulu ja) aku pernah punya ide untuk mbuat suatu blog. Ide awalnya c biar aku bisa terus menulis dan memperlihatkan ke semua tentang pola pikirku. Dan aku membuat beberapa blog, yap beberapa, bukan cuma satu doang.
Dan seperti layaknya kehidupan, masalah2 berdatangan. Masalah yang terjadi setelah aku mbuat blog tu bukan terletak pada tulisanku, atau aku kekurangan ide ato semacam tu. Pi masalah kaya, kok blogq gak bisa sebagus itu c, ne ngaturnya gimana c, ntar kalo gak da yang baca gimana, tampilannya jelek banget ne, bla3.
Yaa intinya masalah-masalah yang tergantung ama perspektif kita, ya, aku pake kata kita, karena ku dengar beberapa temenku juga berbunyi sama seperti ku. Inti dari masalah-masalah tu menurutq ya gara-gara pikiran negatif.
Cukup mengagumkan betapa pikiran-pikiran negatif bisa dengan mudah dan ampuhnya mensabotase (ato menyatobase ya yang benar) diri kita. Dan jika aku bilang mensabotase diri kita, aku bukan bilang spesifik mengenai blog saja, pi seleruh kehidupan kita bisa dengan mudahnya di sabotase ma tu “super massive evil negative thinking”.
Saya akan memparafrase ucapan Jack Canfield di sini, ketika kita mengendarai mobil atau sepeda motor di malam hari, lampu kita mungkin hanya sebatas menerangi area sejauh 60 meter, kita tidak pernah tahu da pa di 60, 120, 180 ato meter-meter selanjutnya, kita hanya fokus pada pandangan yang terliat di depan kita, dan hanya dengan jangakuan lampu sejauh 60 meter tadi, menganggap hal biasa perjalanan sejauh ratusan kilometer adalah normal, yang kita tau kita udah nyampe di tujuan. Bagaimana jika kita memikirkan meter-meter selanjutnya, bagaimana jika ternyata di depan tar jalannya bolong, kalo da pocong, da rampok, kalo tanahnya tar longsor, ato bagaimana jika tar semua penduduk di desa berikutnya ujug-ujug bangun dan nglemparin kita? Hem…
Terima kasih Jack, uda kasi perspektif baru mengenai berkendara di malam hari.
Ku harap kalian masi fokus, meskipun tadi uda kukasi penjelasan panjang lebar mengenai sebab-sebab dan menjalar ke pikiran negatif. Maksudku judulnya ne versi beta pi belum ku singgung ama sekali. Sabar ya.
So, kalian pernah dengar teori tentang produk yang siap. Idenya c kalo kamu mau jualan suatu benda, benda tu tadi uda kamu “godok” lebih dulu ampe benda tu uda benar-benar siap dipasarkan. Awalnya aku mo analogikan blogq ne ama teori tu. Tu sebelum kuteringat ama versi beta, the beta version.
Ide dari versi beta ne untuk meluncurkan suatu produk yang belum jadi total, kadang untuk ngetes ke konsumen dulu, dan mengharapkan timbal balik dari mereka sebelum jadi suatu produk yang siap.
Dan kupikir-pikir napa ku gak jadiin blogq ne kaya semacam tu, ya, blogq ne emang masi belum perfect, ku masi belum tau teknik-teknik untuk mbuat blog cakep, kekurangan masi da di sana-sini. Dengan menyisipkan nama Beta tu berarti ku nunjukin kalo blogq belum jadi dan masi akan ku kasi perbaikan di sana-sini.
Tapi bukankah tidak ada yang namanya produk benar-benar siap, ato sempurna, semuanya tergantung konteks dimana produk tu diluncurkan. Maksudku jika kamu bisa menghentikan waktu (yang aq yakin gak mungkin) maka akan ada istilah produk sempurna. Dengan kata lain semua produk tu pada intinya versi beta semua.
Ya3, aku tau itu. Aku ambil versi beta ne dari produk2 program komputer. Misalnya sebelum di luncurkan firefox 3.0 sebelumnya da firefox 3.0 beta 5.1, dan nanti pastinya juga bakal ada firefox 4.0 dengan versi beta sebagai pendahuluannya.
Bukankah kalo seperti itu berarti kamu seharusnya mengasi blog mu dengan nomor juga kaya 1.0 seperti tu, dan yang sepertinya di blog ne nama uda tetap, g bisa diganti.
Hem, mungkin ne blog emang bakal versi beta selamanya….