Karena masalah produktifitas, font, dan beberapa hal lain. Blog ini q pindah di rvq1.blogspot.com. Key, c u there!
To eyang
Posted by rvqinc on September 5, 2008
Di bawah ini, surat yang saya kirimkan ke mbah saya….
Assalamu`alaikum wr.wb
Met pagi menjelang siang eyang, di sini sekarang baru jam 9.23, jadi masi terlalu dini untuk mengucapkan met siang. Saya bisa dibilang sehat sekarang, dan alhamdulillah masi semangat untuk menjalani petualangan besar yang bernama hidup ini. Semoga disana eyang putra dan putri merasakan hal yang sama. Tadi pagi sehabis sahur saya malah sepedaan, beberapa kilo, awalnya mau liat anak-anak yang main basket di UMM situ, tapi gara-gara sepi, mungkin gara-gara udah masuk sekolah atau emang masi bo-bo semua, saya berfikir beberapa saat dan menetapkan tujuan baru ke teman saya. Jarak rumahnya sekitar 3 kilo dari UMM situ, pi perjalanan jadi menyenangkan karena dilalui dengan sepeda Polygon saya. Sepagi itu jalannya masi sepi dan sepeda saya bisa melaju kencang mengarungi jalan yang cukup menurun tadi, entah berapa kecepatan saya saat itu, gear sepeda saya naikkan satu tingkat untuk mengimbangi kecepatan, merasakan hembusan angin pagi tanpa polusi di jalan yang sepi dan rata benar-benar seru. Saya melewati Pasar Dinoyo dalam perjalanan tadi, sempat menyaksikan dua orang petugas parkir sepeda motor yang melihat perempuan berlalu dengan mata mereka yang ngiler. Saya cuma bisa tersenyum jika melihat dua orang tadi yang jika dilihat dari perawakannya, seperti perjaka tua. Tidak sampai sepuluh menit saya tiba di rumahnya. Namanya Dewonggo, teman saya dari kelas satu MTs, senang rasanya bisa bicara sebentar ma dia. Topik-topik seperti selalu ada mengingat lamanya kita berteman, dan yang paling menarik adalah topik apapun bisa dibuat seru jika bicara dengan teman seperti itu.
Seperti yang eyang tau, di sini saya mau membalas surat yang diberikan eyang kepada saya, surat yang berupa khotbah itu. Penting bagi saya untuk mengatakan bahwa, seperti yang kita tau, secara usia saya bisa digolongkan muda, dan tentunya Insyaallah juga berjiwa muda. Mengingat hal itu, maka apa yang saya katakan, diksi yang saya gunakan mungkin bisa terlihat kasar atau aneh bagi eyang, tapi saya melakukan semua itu sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung atau membuat risih eyang. Saya hanya mengatakan apa adanya, dan jika apa adanya itu terlihat dilebih-lebihkan menurut eyang, mungkin hal itu hanya faktor muda saya yang ikut berperan.
Di dua khotbah ini eyang membahas tentang Isra` Mi`raj dan Ketentraman Batin. Isi dari khotbah yang eyang sampaikan benar dan solid menurut saya, disertai beberapa dalil, dan contoh-contoh di sana sini, tetapi saya tidak atau mungkin belum menemukan unsur menarik di situ. Kenapa ini bisa terjadi? Penjelasan versi pendeknya karena saya bosan, versi panjangnya karena saya sudah mendengar topik itu mulai saya bisa ikut jumatan sampai segede ini disampaikan beberapa kali, di berbagai masjid, melalui orang-orang yang berbeda, tapi tetap dengan isi yang sama dengan perubahan yang bisa dikatakan tidak ada.
Saya yakin bukan hanya saya yang merasakan perasaan seperti ini, saya memang tidak punya data statistik atau semacam itu, tapi tanda-tandanya sudah bisa jelas dilihat. Fakta bahwa banyak orang yang datang Jumatan pada waktu menjelang khotbah kedua atau bahkan ada yang menunggu komat, kemudian banyak orang yang tidur saat dibacakan khotbah entah mereka benar-benar capek atau emang merasa bosan itu tadi dan tentunya tidak ada wanita di sini yang tertarik untuk ikut Jumatan, di sini karena di sana, di Amerika, setau saya malah ada perempuan yang menjadi Khotib malah.
Sesuatu yang diperintahkan dengan hukum wajib, menurut saya pasti akan ada masa di mana perintah itu kehilangan makna. Ya, menurut saya sebagian besar orang itu Jumatan hanya karena ada perintah di dalam Al-Quran atau sekedar tradisi saja, bukan karena dorongan di dalam dirinya untuk benar-benar mencari ilmu. Kalau pendapat saya jelas hal itu negatif. Orang-orang bertindak hanya karena dorongan pahala, sorga atau neraka saja, berfikir bahwa jika setiap hari membaca Al-Quran, sholat, puasa, Jumatan, atau mungkin telah haji mereka bisa begitu mudahnya masuk surga dan mengabaikan masalah-masalah “duniawi” karena merasa yakin udah punya kavling di surga yang jauh di sana. Sebenarnya selain Jumatan masi ada beberapa kegiatan yang bernada sama.
Saya ambil contoh pada Ramadhan ini, mengenai Tadarus. Di mana-mana orang-orang semangat sekali untuk membaca Al-Quran, kenapa bisa begitu? Karena diperintahkan membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya, karena ingin meramaikan bulan yang mulia ini, karena sudah tradisi dan karena pahalanya dilipat gandakan berkali-kali. Setahu saya perintah ini disampaikan oleh Muhammad dulu sekali, dengan konteks masyarakat Arab, apakah kita di sini yang tidak bisa memahami salah satu bahasa tersulit itu juga mendapat perintah yang tepat sama dengan mereka? Saya ragu, maksud saya teori tentang orang membaca suatu naskah tanpa mengerti sama sekali naskah itu, dan melakukannya hanya karena dorongan yang dangkal dan untuk dirinya sendiri itu masih tidak dapat saya mengerti. Bagaimana jika saya misalkan saya seorang guru, membuat buku, dengan bahasa yang murid saya tidak mengerti, buku itu dibaca semua murid saya setiap saat, tanpa mereka mengerti sedikitpun, dengan harapan rapornya saya kasi nilai bagus nanti, aneh kan teori ini, tujuan utama saya “menurunkan” buku yaitu untuk memberi manfaat setidaknya ke mereka dan seharusnya ke lingkungannya tidak digubris sama sekali. Mengenai shalat, khususnya Tarawih dan Subuh. Sudah biasa kita lihat betapa penuhnya masjid pada kedua shalat ini, terutama di Tarawih, dan menurut saya hanya pada Ramadhan bisa kita lihat rekor-rekor jamaah masjid terbanyak sepanjang masa yang dipegang tahun-tahun yang lalu bisa berguguran. Meskipun sebagian besar orang di situ shalatnya seperti shalat orang yang teler, meminjam istilahnya Yusman Roy. Kenapa orang-orang bisa giat sekali shalat pada bulan ini? Karena diperintahkan seperti itu, karena ingin ikut kegiatan yang “rame” ma orang banyak, karena dari dulu seperti itu dan karena pahalanya gede. Saya mungkin hanya menjadi sinis di sini, tapi menurut saya faktor perintah, tradisi, dan pahala(semacam kombinasi yang mematikan), benar-benar tidak bisa dilepaskan pada Tadarus, Tarawih, dan ya, Jumatan.
Suatu perintah, tradisi yang dibumbui dengan pahala akan berbahaya jika sudah kehilangan maknanya, kita tidak perlu sampai menghapus suatu tradisi itu, memberinya makna yang sesuai dengan kondisi sekarang, merupakan solusi yang tepat saya pikir.
Sekarang mungkin saya hanya bisa bermimpi bisa mendengarkan khotbah yang berjudul, Isra` Mi`raj dengan Wright Bersaudara, Kesabaran dengan Nelson Mandela, Menuntu Ilmu dengan Abdus Salam, Hijrah dengan Benjamin Franklin, atau Akhlak Mulia dengan Mahatma Gandhi. Sengaja saya pilih orang-orang yang non-muslim(dengan pengecualian mungkin pada Abdus Salam, satu-satunya muslim peraih Nobel Fisika, yang sayangnya “tidak sebegitu muslim” karena Ahmadiyah). Karena saya yakin banyak yang bisa diambil dari mereka dan tidak seharusnya agama memecah-mecah umat manusia.
Dengan segala hormat.
Cucu eyang yang cakep
Ahmad Rifqie Hasan
Wassalamualaikum wr.wb.
.
Posted in Pendapat | Tagged: Surat | 2 Comments »
Heath’s Joker
Posted by rvqinc on September 3, 2008
I believe… whatever doesn’t kill you simply makes you… stranger.
Dan BLAR, Joker hadir, kata dari Friedrich Nietzsche yang sebenarnya stronger menjadi stranger di bawah Joker, salah satu penjahat terbaik sepanjang masa, kalau bukan dia yang menduduki peringkat teratas. Mengejutkan melihat kedalaman akting dari Heath Ledger sebagai Joker di The Dark Knight, terutama jika melihat film-filmnya yang lalu seperti A Knight Tale dan Brokeback Mountain. Keraguan banyak orang langsung datang seketika Christopher Nolan (sutradara), menunjuk Heath menjadi Joker, peran yang pernah solid dibawakan oleh Jack Nicholson di Batman karya Tim Burton.
Nolan memang berperan penting dalam membuat The Dark Knight menjadi salah satu sekuel terbaik sepanjang masa, teknik penyutradaraannya yang dipenuhi kejutan-kejutan dengan cerita yang tidak bisa ditebak kembali diperlihatkannya di film ini, hal ini sangat mampu membuat penonton terus menyimak jalannya film meskipun waktu diputar film ini yang tergolong panjang, 2 jam 32 menit. Semua aktor dari Batman(Christian Bale), Joker(Heath Ledger), Harvey Dent(Aaron Eckhart) sampai James Gordon(Gary Oldman) mampu dibuat Nolan menunjukkan kualitas akting terbaiknya. Pada setiap adegan, Nolan mampu membuat penonton bertanya-tanya akan apa yang dilakukan oleh aktor-aktor tadi, dan menemukan ketegangan seorang psikopat ketika Joker muncul di layar.
Heath Ledger sendiri menghabiskan waktu tidak kurang dari sebulan mengurung dirinya di kamar hotel untuk merubah dirinya menjadi Joker, suara, gaya bicara dan bahasa tubuhnya benar-benar hilang dalam perannya ini. Meskipun seharusnya perasaan sedih ada saat menyaksikan penampilan terakhirnya ini, tapi perasaan itu akan tenggelam begitu saja saat melihat Joker, karena dirinya hilang sepenuhnya ke dalam tubuh Joker. Yang kita lihat malah seorang maniak berotak profesor dengan wajah yang dipenuhi bedak putih tidak teratur dengan luka pada bibirnya yang diberi warna merah.
Wanna know how I got these scars? My father was….a drinker. And a fiend. And one night he goes off crazier than usual. Mommy gets the kitchen knife to defend herself. He doesn’t like that. Not. One. Bit. So, me watching, he takes the knife to her, laughing while he does it. Turns to me and he says “Why so serious?” Comes at me with the knife,“Why so serious?” He sticks the blade in my mouth. “Lets put a smile on that face!” And….. Why so serious?
Penjahat-penjahat di Gotham yang pada awalnya bisa melakukan apa saja tanpa aturan pada malam hari, menjadi takut untuk keluar, hanya dengan melihat simbol Batman di langit. Batman yang mulanya ingin membantu meletakkan keteraturan di Gotham telah berubah menjadi simbol hukum, keadilan dan keteraturan itu sendiri. Dan disinilah letak dari masalahnya, Batman bertindak seakan-akan dia sosok yang bertindak di atas hukum itu sendiri, yang bisa menginjak-injak hukum di manapun semaunya.
My plan’s simple…KILL the Batman
Film ini, The Dark Knight, bisa dibilang merusak semua film-film superhero yang ada. Alur cerita superhero yang standar dimana biasanya yang berhadapan adalah superhero melawan monster, di bawa ke kedalaman baru oleh Nolan menjadi keteraturan melawan kerusakan, order versus chaos. Mau tidak mau semua orang akan mengingat The Dark Knight ketika melihat film-film superhero yang lain, entah film superhero sebelum atau sesudahnya. Standar yang telah diletakkan The Dark Knight begitu tinggi, yang mungkin akan sulit ditaklukkan dalam waktu beberapa tahun ke depan.
Posted in Film | Tagged: Maha Karya | Leave a Comment »
Versi Beta
Posted by rvqinc on August 28, 2008
Aku mo nyeritain sedikit tentang pa yang pernah ku alamin dan ku dengar tentang membuat blog.
Suatu hari, hem gak usah pake kata suatu hari kayanya, seperti dongeng aja, pi sepertinya nyeritain tentang blog dengan teknik mendongeng cukup menantang. Hem…. gimana ya, versi alami aja, laen kali aja cari tantangannya.
Dulu (ya wz dulu ja) aku pernah punya ide untuk mbuat suatu blog. Ide awalnya c biar aku bisa terus menulis dan memperlihatkan ke semua tentang pola pikirku. Dan aku membuat beberapa blog, yap beberapa, bukan cuma satu doang.
Dan seperti layaknya kehidupan, masalah2 berdatangan. Masalah yang terjadi setelah aku mbuat blog tu bukan terletak pada tulisanku, atau aku kekurangan ide ato semacam tu. Pi masalah kaya, kok blogq gak bisa sebagus itu c, ne ngaturnya gimana c, ntar kalo gak da yang baca gimana, tampilannya jelek banget ne, bla3.
Yaa intinya masalah-masalah yang tergantung ama perspektif kita, ya, aku pake kata kita, karena ku dengar beberapa temenku juga berbunyi sama seperti ku. Inti dari masalah-masalah tu menurutq ya gara-gara pikiran negatif.
Cukup mengagumkan betapa pikiran-pikiran negatif bisa dengan mudah dan ampuhnya mensabotase (ato menyatobase ya yang benar) diri kita. Dan jika aku bilang mensabotase diri kita, aku bukan bilang spesifik mengenai blog saja, pi seleruh kehidupan kita bisa dengan mudahnya di sabotase ma tu “super massive evil negative thinking”.
Saya akan memparafrase ucapan Jack Canfield di sini, ketika kita mengendarai mobil atau sepeda motor di malam hari, lampu kita mungkin hanya sebatas menerangi area sejauh 60 meter, kita tidak pernah tahu da pa di 60, 120, 180 ato meter-meter selanjutnya, kita hanya fokus pada pandangan yang terliat di depan kita, dan hanya dengan jangakuan lampu sejauh 60 meter tadi, menganggap hal biasa perjalanan sejauh ratusan kilometer adalah normal, yang kita tau kita udah nyampe di tujuan. Bagaimana jika kita memikirkan meter-meter selanjutnya, bagaimana jika ternyata di depan tar jalannya bolong, kalo da pocong, da rampok, kalo tanahnya tar longsor, ato bagaimana jika tar semua penduduk di desa berikutnya ujug-ujug bangun dan nglemparin kita? Hem…
Terima kasih Jack, uda kasi perspektif baru mengenai berkendara di malam hari.
Ku harap kalian masi fokus, meskipun tadi uda kukasi penjelasan panjang lebar mengenai sebab-sebab dan menjalar ke pikiran negatif. Maksudku judulnya ne versi beta pi belum ku singgung ama sekali. Sabar ya.
So, kalian pernah dengar teori tentang produk yang siap. Idenya c kalo kamu mau jualan suatu benda, benda tu tadi uda kamu “godok” lebih dulu ampe benda tu uda benar-benar siap dipasarkan. Awalnya aku mo analogikan blogq ne ama teori tu. Tu sebelum kuteringat ama versi beta, the beta version.
Ide dari versi beta ne untuk meluncurkan suatu produk yang belum jadi total, kadang untuk ngetes ke konsumen dulu, dan mengharapkan timbal balik dari mereka sebelum jadi suatu produk yang siap.
Dan kupikir-pikir napa ku gak jadiin blogq ne kaya semacam tu, ya, blogq ne emang masi belum perfect, ku masi belum tau teknik-teknik untuk mbuat blog cakep, kekurangan masi da di sana-sini. Dengan menyisipkan nama Beta tu berarti ku nunjukin kalo blogq belum jadi dan masi akan ku kasi perbaikan di sana-sini.
Tapi bukankah tidak ada yang namanya produk benar-benar siap, ato sempurna, semuanya tergantung konteks dimana produk tu diluncurkan. Maksudku jika kamu bisa menghentikan waktu (yang aq yakin gak mungkin) maka akan ada istilah produk sempurna. Dengan kata lain semua produk tu pada intinya versi beta semua.
Ya3, aku tau itu. Aku ambil versi beta ne dari produk2 program komputer. Misalnya sebelum di luncurkan firefox 3.0 sebelumnya da firefox 3.0 beta 5.1, dan nanti pastinya juga bakal ada firefox 4.0 dengan versi beta sebagai pendahuluannya.
Bukankah kalo seperti itu berarti kamu seharusnya mengasi blog mu dengan nomor juga kaya 1.0 seperti tu, dan yang sepertinya di blog ne nama uda tetap, g bisa diganti.
Hem, mungkin ne blog emang bakal versi beta selamanya….
Posted in hidupq | Tagged: negatif | Leave a Comment »
Ayo…..!
Posted by rvqinc on August 24, 2008
Continuous effort—not strength or intelligence—is the key to unlocking our potential, usaha terus-menerus—bukan kekuatan atau kecerdasan—adalah kunci untuk melepaskan potensi kita. Baru dua hari dapat tu kalimat, bukan dari aku tu kata-kata, Winston Churcill pelakunya, pernah jadi Perdana Menteri Inggris tu orang, kalo ga salah. Pi tu kalimat yang mendasari ku mbuat ne so called blog.
Bukan blog aja, pi akan banyak hal, blog ne salah satunya tepatnya (kaya rada aneh ne pake kata blog, jadi inget kata goblog). Ku mo nulis, ngetik tepatnya, ide-ideku, pengamatan-pengamatanku, secara terus-menerus dan membiarkan segalanya bergulir, maksudku sapa yang tau apa yang bakal di bawa masa depan?, who knows what the future may bring? Kalo ne mencomot dari si Richard Dawkins, hem mungkin ku gak usah nyebutin terus-terusan dari mana ku dapat kalimat-kalimat cakep.
Dari dulu ku emang uda suka nulis-menulis, awalnya ya dari sering buat karangan pas pelajaran BI ato Bing, pi yang sebenarnya mbuat ku suka nulis ya dari cewek. Dulu ceritanya da cewek yang suka nulis surat (so sweet) ke aku, dan otomatis karena aku bisa dibilang baik dan lugu pada waktu kejadian tu terjadi, ku memilih untuk membalas semua surat yang datang padaku (wah3).
Surat pertama dulu terjadi waktu SD, di SDI Wahid Hasyim, yang buat unik tu suratnya langsung dimasukin ke aku punya tas, punya tas aku, tas punya aku, tanpa ku sadari sampai ku di rumah. Bisa bayangin kan betapa bingungnya saat itu, teknik pengiriman surat tingkat SMA terjadi di SD, hebat tu anak, pi tu mungkin emang cara tergampang. Di SMP, aku di MTsN 1 Malang, surat juga ada di masa ini, tidak begitu ingat ku spesifiknya gimana. Dan di SMA, MAN 1 Malang, puncaknya aku sadar tentang menulis. Tu anak ampe buat buku, bukan di kertas lagi, karena pernah kejadian dia nulis surat, surat ke-2, pi gak ku bales, entah apa pikiranq saat itu, menganggap gak penting mungkin. Idenya tu kalo dia kirim tu buku surat ke aku, tar waktu ku ngembaliin harapannya ku juga nulis sesuatu di situ. Uda ampe dua buku lebih kalo ga salah.
Q kaya uda notok di sini, ampe paragraf ketiga ne, sering aku ngetik dan merasa uda notok, bukan uda cukup. Dulu waktu nulis kejadian kaya gini jarang ato gak pernah terjadi malah. Biasanya kuberhenti nulis karena emang ngerasa uda cukup, pa ne da hubungannya ma ngetik ya, hem belum pernah dengarku penelitiannya orang tentang ngetik lawan nulis.
Ku pernah berfikir ne da hubungannya dengan mbuat kerangka terlebih dulu, pi dulu waktu nulis gak pake kerangka tetep ngalir kok, mungkin bakal kucoba sekali lagi buat kerangka dulu tar.
Anyway, setelah ngungkapin paragraf di atas ku dapat ide lagi. Ya, ide tentang cara orang lain bisa tetap berhubungan denganku. Nulis blog ne mo ku buat alternatif lain siapa pun untuk “melihat” ku. Ku uda punya friendster, pi ku tidak melihat masa depan di tu friendster, maksudku rada aneh kan dengan bertambahnya angka kita, masi friendsteran. Sebenarnya ku emang lebih suka kamu bilang ide kamu apa, ato pengen bahas apa, terus tar bisa kasi pendapat di situ, ato mungkin bisa dibilang mbahas hal-hal yang lebih jelas. Meskipun friendster uda nyediain lahan buat kita ngungkapin pikiran kita kaya resensi ato blog, pi tetep kurang maksimal menurutq.
Aku suka sekali mbahas banyak hal, dialog ato debat tentang topik apapun. Dapat banyak sekali wawasan aku dari kegiatan seperti itu. Dan uniknya tentang dialog ma debat itu, aku kadang sering masi bingung ato belum plong tentang pendapat yang kuyakini benar, pi setelah ato bahkan ketika dialog ato debat tu masi terjadi ku malah jadi jelas tentang pa yang kubingungkan.
Dan beginilah, posting pertamaku, masi kacau di sana-sini, pi buat kenang-kenangan tar saat ku lanjut usia.
Posted in hidupq | Tagged: awal | Leave a Comment »
